Wawancara dalam Riset: Jenis, Alasan, Tips, dan Kodingnya

Reading Time: 5 minutes

Dalam riset, wawancara adalah salah satu contoh metode pengumpulan data. 

Wawancara tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling (kuantitas), melainkan kedalaman data (kualitas.) Data yang terkumpul akan dianggap cukup jika sudah bisa menjelaskan fenomena yang diteliti (Kriyantono, 2006). 

Di dalam bukunya, Kriyantono (2006) membagi wawancara ke dalam dua kelompok:

  1. Wawancara Riset Kualitatif: disebut sebagai wawancara mendalam (depth interview) atau wawancara secara intensif (intensive-interview), dan kebanyakan tak berstruktur. 
  2. Wawancara Riset Kuantitatif: biasanya bersifat terstruktur dan sebagai penambah data yang yang diperoleh dari kuesioner.

Nah, untuk lebih detilnya, cek jenis-jenis wawancara berikut

 

Jenis-Jenis Wawancara

 

Two guys are having an indepth interview (source: Unsplash)
Unsplash/ Linkedin

 

Ada beberapa jenis wawancara yang digunakan saat riset (Kriyantono, 2006):

  • Wawancara pendahuluan

Wawancara ini biasa dilakukan untuk mengenalkan periset kepada orang yang akan diriset atau orang yeng memiliki informasi (informan). Wawancara ini terjadi begitu saja, tanpa adanya sistematika, tidak terkontrol, dan tidak diorganisir. Wawancara ini dilakukan sebagai upaya menciptakan rapport (rasa percaya informan kepada periset). 

  • Wawancara terstruktur (structured interview)

Juga dikenal sebagai wawancara sistematis atau wawancara terpimpin. Pertanyaan yang ditujukan disusun secara sistematis, biasanya dimulai dari yang mudah lalu ke hal yang lebih kompleks. 

Dalam melakukan wawancara, periset menggunakan pedoman wawancara (interview guide/schedule). Biasa digunakan pada riset kuantitaif.

Jenis ini menuntut periset menggunakan pertanyaan-pertanyaan dengan kata-kata yang persis dan urutannya sudah ditetapkan. 

  • Wawancara semistruktur (semi structured interview)

Wawancara ini juga dikenal sebagai wawancara terarah atau wawancara bebas terpimpin. Wawancara ini bersifat fleksibel. 

Dalam pelaksanaannya, periset sudah memiliki daftar pertanyaan tertulis, namun periset diperbolehkan untuk mengembangkan pertanyaan sesuai dengan situasi dan kondisi. 

  • Wawancara mendalam (depth interview)

Wawancara ini dilakukan secara berulang-ulang dan intensif. Lalu, perlu dibedakan antara responden dan informan.

Responden adalah orang yang hanya diwawancarai sekali. Sementara itu, informan adalah orang yang ingin dipahami periset dan akan diwawancarai beberapa kali. Oleh karenanya, wawancara ini disebut sebagai wawancara intensif.

Metode pengumpulan data ini biasanya menjadi alat utama riset kualitatif yang dikombinasikan dengan observasi partisipan. 

 

A guy is having an online interview through Zoom. Source: Unsplash
Unsplash/Linkedin

 

Berikut adalah beberapa karakteristik wawanacara mendalam: 

  • Subjek wawancara sedikit (bahkan hanya satu atau dua orang). Banyaknya subjek tidak ada ukuran pasti. 
  • Wawancara akan terus dilakukan hingga periset merasa sudah tidak ada sesuatu yang baru.
  • Menyediakan latar belakang mendetail mengenai alasan informan memberikan jawaban seperti: nilai-nilai (values), motivasi, pengalaman-pengalaman, atau perasaan informan.
  • Tidak hanya memperhatikan jawaban verbal infroman, tetapi juga respon-respon non-verbal. 
  • Biasa dilakukan dalam waktu yang lama dan berkali-kali. Jika wawancara biasa menghabiskan waktu beberapa menit, wawancara mendalam bisa berlangsung berjam-jam. Tak jarang, periset ikut melibatkan diri dengan hidup bersama informan untuk mengetahui pola keseharian informan. 
  • Memungkinkan memberikan pertanyaan berbeda, tergantung pada ciri-ciri tiap informan. Biasanya pertanyaan bergantung pada jenis informasi yang ingin diperoleh periset. 
  • Sangat dipengaruhi oleh keakraban selama wawancara. Semakin akrab periset dengan informan, wawancara dapat berlangsung lebih lama. 

 

Alasan Menggunakan Wawancara

Wawancara akan menjadi metode pengumpulan data yang pas jika bizmates membutuhkan:

  • Data mendalam tentang segelintir orang mengenai attributes, behavior, preferences, feelings, attitudes, opinions, atau knowledge
  • Membutuhkan penjelasan lebih untuk memahami dan mengeksplorasi pendapat subjek penelitian, pengalaman-pengalaman mereka, atau suatu fenomena.
  • Membutuhkan jawaban yang sebagian besarnya open-ended, sehingga memungkinkan untuk memahami subjek secara rinci, mendapatkan wawasan yang kompleks, dan menangkap nuansa yang mungkin tidak terungkap melalui metode penelitian lainnya.

 

8 Tips Melakukan Wawancara

 

Two women are having an indepth interview (source: Unsplash)
Unsplash/Christina @wocintechchat.com

 

Berikut adalah beberapa tips melakukan wawancara (McGrath, Palmgren, & Liljedahl, 2018):

  1. Persiapkan diri sebagai pewawancara, baik secara keilmuwan (tentang topik penelitian) dan hal-hal praktis (penggunaan alat, cara membuat infroman nyaman). 
  2. Buatlah panduan wawancara dan uji pertanyaannya. Bisa dimulai dengan melakukan ‘tes wawancara’ sebagai pemanasan. Ini bisa membantu peneliti mengecek tentang kejelasan pertanyaan, ketepatan penggunaan bahasa, dan melatih mendengarkan secara aktif. Mulailah dengan pertanyaan ‘mudah’ untuk membuat infroman nyaman dan mebiasakannya dengan topik wawancara.
  3. Pertimbangkan adanya faktor budaya dan dimensi kekuasaan saat wawancara. Perhatikan hal-hal seperti ekspektasi berbeda terhadap situasi wawancara dan tantangan-tantangan dalam mewawancarai seseorang. Misalnya, beberapa infroman mungkin menganggap wawancara sebagai situasi yang invasif dan beberapa wawancara memerlukan orang ketiga sebagai penerjemah atau seseorang yang secara budaya peka terhadap informan.
  4. Bangun hubungan baik dengan para responden, sebaiknya dilakukan jauh sebelum wawancara. Hal ini bisa dimulai dengan menyusun ringkasan singkat tentang topik penelitian (ditulis dengan istilah awam) dan dikirimkan kepada informan sebelum wawancara sebagai cara memberi tahu tentang harapan, topik pembicaraan, dan alasan topik tersebut penting didiskusikan. Selain itu, menjalin hubungan baik (rapport) juga penting agar responden nyaman memberikan penjelasan yang mendalam dan rinci tentang topik penelitian (tidak ada rasa enggan). Salah stau cara membangun rapport adalah mendekati informan dengan sikap terbuka dan penuh dengan rasa ingin tahu.
  5. Ingatlah, periset juga co-creator (salah satu pembuat) data. Dalam penelitian kualitatif, periset adalah instrumen utama pengumpulan data. Periset disarankan untuk bersikap reflektif, peka, dan menyadari perannya dapat berdampak pada percapakan. Di sini, peneliti perlu sadar bahwa pemahamannya tentang data, konteks, atau pengalaman subjek yang diwawancarai berperan penting dan oleh karenanya, peneliti bukanlah pemain pasif.
  6. Talk less and listen more. Jadilah pendengar yang aktif. Dalam hal ini, diperlukan juga kepekaan untuk menghormati momen ‘hening’ dan menjadikannya sebagai saat merefleksi jawaban informan.
  7. Bersiaplah menangani emosi yang tak terduga. Beberapa topik memiliki level sensitivitas yang berbeda (misal, pengalaman tentang stress, kekerasan seksual, atau kegagalan informan). Topik-topik yang memungkin timbulnya emosi tidak nyaman ini perlu diimbangi dengan kepekaan periset. Di sini, periset juga perlu mengambil tindakan untuk melindungi informan. Misalnya, menginterupsi wawancara dan mengarahkan informan mendapatkan bantuan yang tepat.
  8. Mengecek kembali data yang dikumpulkan. Hal ini dilakukan untuk memastikan level kepercayaan (trustworthiness) data. Hal ini dilakukan dengan mengirim hasil wawancara ke para partisipan untuk dicek kembali dan meraih kesepakatan. 

 

Analisis (Pengkodingan) Hasil Wawancara

 

Two women are having an indepth interview (source: Unsplash)
Unsplash/Amy Hirschi

 

Setelah selesai wawancara, langkah terbaik selanjutnya adalah segera melakukan pengkodingan hasil wawancara. Jangan menunda-nunda pengkodingan.

Proses pengkodingan ini dimulai dari (Kriyantono, 2006): 

  1. Periset membaca ulang seluruh material wawancara. Jika wawancaranya tidak memungkinkan untuk direkam, periset harus segera menulis apa saja jawaban yang berhasil dikumpulkan. 
  2. Mencoba membuat gambaran umum hasil wawancara.
  3. Membuat transkrip wawancara (jika direkam).
  4. Membagi transkrip wawancara ke dalam topik-topik.
  5. Topik-topik dipisah berdasarkan kategori sesuai tujuan riset (usahakan kategori tidak saling tumpang tindih dan berisikan semua hasil wawancara).
  6. Dari masing-masing kategori, periset bisa mulai menganalisanya. 

 

References

DeBose, K. (n.d.). Research guides: Research methods guide: Interview research. Research Guides at Virginia Tech. Retrieved April 1, 2024, from https://guides.lib.vt.edu/researchmethods/interviews

Kriyantono, R. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana Prenadamedia Group.

McGrath, C., Palmgren, P. J., & Liljedahl, M. (2018). Twelve tips for conducting qualitative research interviews. Medical Teacher, 41(9), 1002–1006. https://doi.org/10.1080/0142159x.2018.1497149

This article is useful? Share on

Latest Article

Wawancara dalam Riset: Jenis, Alasan, Tips, dan Kodingnya

10 May2024
Dalam riset, wawancara adalah salah satu contoh metode pengumpulan data.  Wawancara tidak mengutamakan besarnya populasi… Read More

All You Need to Know About Research

18 April2024
Riset memang bisa menjadi hal yang mengintimidasi. Telebih, jika Bizmates masih bingung tentang tipe riset,… Read More

Belajar Empathetic Marketing dari Iklan IKEA di Spotify

05 April2024
Spotify Indonesia sempet sering nyisipin iklan podcast horror di sela-sela musik. Karena cukup bikin merinding,… Read More