Memahami Studi Observasional

Reading Time: 4 minutes
Definisi Dan Macam-Macam Riset Observasi

Definisi, Tipe, dan Cara Agar Data Berkualitas

Ketika keadaan tidak memungkinkan peneliti untuk melakukan eksperimen karena pertimbangan etis atau praktis, jalan keluarnya adalah melakukan studi observasional.

Menurut Hardani, et al (2020), observasi adalah kegiatan pengamatan dengan cara mencatat fenomena-fenomena yang sedang diteliti secara terstruktur. Dalam hal ini, peneliti tidak mencoba untuk memengaruhi hasil, melainkan hanya fokus mengamati subjek riset.

Di beberapa hal, metode ini beririsan dengan metode eksperimen. Padahal, ada beberapa perbedaan di antara keduanya.

 

Studi Observasional 

Eksperimen

Tidak membagi subjek dalam kelompok. Membagi subjek secara acak dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
Tidak mengontrol variabel yang bisa memengaruhi hasil. Mengelola dampak eksperimen dan kontrol dari variabel lain.
Temuan korelasional. Perbedaan mungkin disebabkan faktor variabel pengganggu dibanding eksperimen. Lebih memercayai bahwa eksperimen menyebabkan perbedaan hasil.

Sumber: Statistics by Jim

 

Studi observasional dapat digunakan untuk mengamati fenomena-fenomena sebagai berikut:

  1. Bagaimana manusia menggunakan teknologi.
  2. Perilaku manusia di setting tertentu, contohnya di sebuah fasilitas publik atau suatu perkumpulan.
  3. Fenomena alam.
  4. Manusia yang termasuk kelompok tertentu, seperti gender dan nasionalitas.
  5. Perilaku manusia dalam menggunaan produk atau layanan tertentu.

 

Tipe-Tipe Studi Observasional

Tiap-tiap fenomena atau subjek memiliki karakteristik masing-masing. Maka dari itu, peneliti tidak bisa menggunakan satu metode one-for-all. Berdasarkan jenisnya, terdapat 7 tipe studi observasional, yaitu:

 

  • Kajian Potong Lintang

Disebut juga kajian lintas seksional (cross-sectional studies). Dalam bisnis, metode ini dapat digunakan ketika peneliti ingin mencari tahu bagaimana orang-orang dari satu segmen geografis yang sama namun status sosial ekonomi berbeda bereaksi terhadap suatu penawaran.

Metode ini memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan semua variable sekaligus. Penerapannya pun relatif memudahkan peneliti karena tidak memperlukan proses pengumpulan dan analisis data beberapa kali. 

 

  • Kajian Case-Control

Metode ini biasanya digunakan dalam bidang kesehatan, misal untuk mengetahui efek rokok terhadap kasus kanker paru-paru. 

Prinsip dari metode ini adalah membandingkan dua atau lebih kelompok partisipan atau fenomena. Beberapa kelompok yang dibagi diantaranya kelompok kontrol (tidak memiliki hasil yang diinginkan) dan kelompok eksperimen (memiliki hasil yang diinginkan).

 

  • Kajian Kohort

Sama seperti kajian case-control, metode kohort biasa digunakan untuk mengetahui risiko kesehatan tertentu. Namun, metode ini dapat pula digunakan pada bidang sosial ekonomi. 

Melalui metode kohort, peneliti hanya mengamati orang-orang yang memiliki karakteristik sama. Kemudian, peneliti akan menganalisis apa yang terjadi dalam kohort atau kelompok tertentu jika ada sifat-sifat (traits) yang memengaruhi respons variabel.

 

  • Observasi Naturalistik

Melalui metode ini, peneliti mengamati dan mempelajari perilaku partisipan secara spontan di lingkungan alami mereka. Secara spontan di sini berarti peneliti tidak berusaha memanipulasi hasil pengamatan, melainkan hanya merekam apapun yang terjadi dengan cara apapun.

Melalui observasi naturalistik, peneliti akan mendapatkan representasi yang akurat melalui setting alami dari fenomena yang diteliti.

 

  • Observasi Partisipan

Pada metode ini, peneliti atau pengamat akan terlibat secara langsung dalam fenomena yang diamati. Mereka akan melibatkan diri sebagai bagian dari sekelompok orang atau budaya secara intensif dan dalam waktu lama.

Metode ini cocok untuk meneliti kelompok dengan praktik unik, interaksi sosial yang rumit, dan praktik yang tidak memungkinkan untuk dilaporkan secara langsung oleh peserta.

 

  • Observasi Terstruktur

Tipe observasi ini biasanya dilakukan oleh peneliti yang sudah mengetahui

dengan pasti, variabel apa yang akan diamati, kapan dan di mana tempatnya, dan telah dirancang secara sistematis.

Metode ini bersebrangan dengan observasi naturalistik yang bertempat di lingkungan alami. Melalui observasi terstruktur, lingkungan pengamatan dikonstruksikan dan dikontrol terlebih dahulu. Misal, peneliti mengamati bagaimana mahasiswa menggunakan suatu produk di lingkungan kampus.

 

  • Kajian Longitudinal

Berbeda dari kajian potong lintang, kajian longitudinal terbagi dalam beberapa sesi dengan variabel yang bisa berubah. Penyebabnya karena metode ini berfokus pada perkembangan subjek penelitian (individu atau kelompok) seiring berjalannya waktu.

Keterbatasan metode ini adalah memerlukan waktu dan sumber daya yang besar, bahkan bisa berlangsung selama bertahun-tahun. Contohnya, seorang peneliti mewawancarai seorang eks narapidana untuk mengetahui bagaimana perkembangan interaksinya dalam masyarakat. Setiap 6 bulan, peneliti akan mendatangi untuk mencatat perkembangannya.

 

Bagaimana Agar Data Yang Diperoleh Berkualitas?

Untuk memastikan agar data yang diperoleh dari studi observasional berkualitas, peneliti perlu memperhatikan hal-hal di bawah ini.

  • Akses pengamatan. Dalam observasi terbuka, biasanya peneliti memerlukan keterampilan bernegosiasi agar dapat mencapai kesepakatan dengan pihak terkait. Ketika sudah dipastikan tidak akan ada pihak yang dirugikan, peneliti akan mendapatkan akses yang leluasa, sehingga data yang didapatkan akan lebih akurat dan eksploratif.
  • Hindari konflik etis. Selain membahayakan reputasi peneliti, konflik etis juga akan menghambat pengumpulan data secara akurat. Inilah pentingnya mengantisipasi konflik etis yang kemungkinan muncul, mengomunikasikan dengan pihak yang terlibat, dan mencari jalan keluar yang sama menguntungkan.
  • Strategi pengambilan sampel. Proses penentuan sampel harus dilakukan secara hati-hati. Peneliti perlu melakukan pengamatan awal untuk mengetahui sampel yang potensial sebagai informan, bagaimana terhubung dengan mereka, dan kapan bisa menemui mereka. Di sini, peneliti juga perlu menentukan lamanya waktu pengamatan.
  • Variasi data. Di sini, peneliti perlu menentukan, apakah observasi akan dilakukan secara terstruktur atau tidak terstruktur. Jika dilakukan secara terstruktur, maka peneliti perlu memperhatikan pedoman observasi. Jika dilakukan secara tidak terstruktur, peneliti perlu mengantisipasi beberapa hal yang berkaitan dengan alat penelitian seperti recorder, catatan lapangan, kamera, dan lain-lain.

 

Kesimpulan

Selain diterapkan pada lingkup akademik, studi observasional juga dapat membantu bisnis memahami konsumen dan meningkatkan relevansi produk dan jasa yang ditawarkan.

Dalam bisnis, studi ini dilakukan dengan cara mengamati bagaimana konsumen atau calon konsumen berperilaku berkaitan dengan customer experience, seperti ketika membeli atau menggunakan suatu produk.

Studi observasional bukan hanya memungkinkan bisnis untuk mengamati konsumen, namun juga memahami perilaku dan pemikiran mereka berdasarkan bahasa tubuh dan tone suara yang digunakan.

Tertarik untuk menggunakan studi observasional untuk mengembangkan bisnismu? Yuk, ngobrol dulu sama kami!

 

Referensi

Hardani, et al. (2020). Metode Penelitian Kualitatif & Kuantitatif. Pustaka Ilmu. Yogyakarta. 

This article is useful? Share on

Latest Article

Jenis-jenis Sampling dalam Penelitian

10 July2024
Ketika memilih jenis sampling, peneliti perlu menjamin teknik sampling yang digunakan bisa mewakili populasi. Ada… Read More

Memahami Studi Observasional

28 June2024
Definisi, Tipe, dan Cara Agar Data Berkualitas Ketika keadaan tidak memungkinkan peneliti untuk melakukan eksperimen… Read More

Populasi dan Sampel: Definisi, Jenis, Contoh, dan Perbedaan

14 June2024
Dalam riset, istilah populasi dan sampel sering digunakan sebagai penentu ‘seberapa banyak’ objek penelitian yang… Read More