Jenis-jenis Sampling dalam Penelitian

Reading Time: 4 minutes
Jenis-Jenis Sampling Penelitian

Ketika memilih jenis sampling, peneliti perlu menjamin teknik sampling yang digunakan bisa mewakili populasi.

Ada dua jenis sampling dalam riset: probability sampling (sampel probabilitas) dan non probability sampling (sampel nonprobabilitas).

jenis-jenis sampling

 

Probability Sampling

Teknik ini memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih sebagai sampel (Sugiyono, 2018).

Ada 4 jenis probability sampling yang bisa digunakan:

  1. Simple random sampling (sampling random sederhana)

    Pengambilan anggota sampel dari populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada. Jenis ini bisa dipilih bila anggota populasi dianggap homogen (Syapitri et al., 2021).

    Syarat teknik bisa digunakan adalah adanya adanya kerangka sampling atau daftar sampling.

    Misalnya, jika peneliti ingin meriset mahasiswa Universitas Swasta A, maka peneliti harus mempunyai daftar seluruh mahasiswa di kampus tersebut. Peneliti kemudian bisa mengundi nomor tersebut sampai mendapatkan jumlah sampel yang dibutuhkan.

  2. Proportionate stratified random sampling

    Stratified random sampling (sampling berstrata) adalah mengelompokkan populasi ke dalam kategori yang disebut strata. Strata ini bisa berupa usia, kota, jenis kelamin, agama, atau tingkat penghasilan (Kriyantono, 2006).

    Sampling berstrata ini ditujukkan untuk membuat sifat homogen dari populasi yang heterogen. Misalnya, ketika ingin meneliti populasi karyawan di Perusahaan B. Peneliti bisa mengelompokkan para karyawan berdasarkan jabatan strukturalnya di maisng-masing unit kerja.

    Ada dua jenis Sampling Berstrata: proportionate stratified random sampling dan disproprotionate stratified random sampling.

    Proportionate stratified random sampling digunakan ketika populasi mempunyai anggota yang tidak homogen dan berstrata proporsional (Sugiyono, 2018).

    Misalnya, ada 100 mahasiswa dan 10 dosen. Peneliti memustuskan untuk mengambil sampel secara proposional sebesar 10%. Maka, terdapat 10 mahasiswa dan 1 dosen yang dijadikan sampel.

  3. Disproprotionate stratified random sampling

    Jenis sampling ini digunakan bila populasi berstarta tetapi kurang proposional.

    Misalnya, ada populasi berjumlah 5000 orang yang dibagi ke dalam 4 strata. Peneliti memutuskan untuk mengambil 500 orang sebagai sampel.

    Jika menggunakan proportionate stratified random sampling, peneliti memutuskan untuk mengambil 10% per strata.

    Jika menggunakan disproportionate, 500 sampel akan dibagi rata ke dalam 4 strata, dengan 125 orang per strata-nya. 

    Proportionate vs Disproportionate Stratified Random Sampling

  4. Cluster sampling (sampling klaster)

    Digunakan ketika objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Pengambilan sampel dilakukan secara bertahap dari wilayah yang luas sampai wilayah terkecil  (Syapitri et al., 2021).

    Misalnya, peneliti ingin meriset tentang preferensi menonton Ibu Rumah Tangga (IRT) di Jabodetabek. Peneliti bisa secara acak memilih wilayah yang lebih kecil, misalnya IRT di RW XI Kelurahan Caringin.

    Berikut contoh proses memilih sampel dari wilayah luas menjadi lebih kecil. 

    Sampling Klaster

 

Non Probability Sampling

Non probability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi kesempatan yang sama bagi unsur populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Ada 6 jenis probability sampling yang bisa digunakan:

  1. Sampling sistematis

    Mengambil sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang diberi nomor urut (Syapitri et al., 2021).

    Misalnya, ada 100 orang anggota populasi yang diberi nomor urut 1 sampai 100. Lalu, peneliti menentukan sampelnya adalah anggota dengan nomor ganjil saja.

  2. Sampling kuota

    Peneliti menentukan sampel dan populasi yang memiliki ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan (Syapitri et al., 2021).

    Misalnya, peneliti menentukan jumlah sampelnya adalah 200 orang. Jika pengumpulan data belum memenuhi kuota 200 orang, maka penelitian dipandang belum selesai.

  3. Sampling insidental (accidental sampling)

    Mengambil sampel berupa siapa saja yang kebetulan atau insidental bertemu dengan peneliti dan dapat dijadikan sampel (Syapitri et al., 2021).

    Misal, peneliti ingin meriset tentang customer service Toko A. Maka, peneliti bisa menemui konsumen yang kebetulan melakukan transaksi di Toko A.

  4. Purposive sampling

    Teknik ini mencakup menyeleksi orang-orang atas kriteria-kriteria yang dibuat periset berdasarkan tujuan riset.

    Teknik ini biasanya dipilih untuk riset yang lebih mengutamakan kedalamatn data dibandingkan riset representatif yang dapat digeneralisasikan (Kriyantono, 2006).

    Misalnya, penelitian tentang Opini Mahasiswa terhadap film India, maka sampelnya harus mahasiswa yang pernah menonton film India.

  5. Sampling jenuh (total sampling)

    Teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Syapitri et al., 2021).

    Teknik ini sering dilakukan bila jumlah populasi relatif kecil (kurang dari 30 orang) atau ingin membuat generalisasi dengan kesalahan yang sangat kecil.

  6. Snowball sampling

    Seperti namanya, teknik ini bagaikan bola saju yang turun dari puncak ke gunung ke lembah: semakin lama semakin besar ukurannya.

    Teknik ini banyak ditemui di riset kualitatif dan digunakan ketika periset kesulitan menentukan responden yang potensial dan bersedia diwawancarai.  Kemudian, periset akan meminta responden yang telah diwawancarai untuk merekomendasikan siapa yang bisa diwawancarai untuk melengkapi datanya.

    Proses ini baru berakhir ketika periset tidak lagi menemukan sesuatu yang baru dari wawancara (data jenuh).

 

Cara Menentukan Sampling

Menurut Syapitri et al (2021), ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menentukan sampling: 

  1. Tentukan luas populasi yang akan diteliti. Ini bertujuan untuk memberi batasan ke peneliti tentang populasi yang harus diteliti dan staying relevant to research objective
  2. Mengenali kualitas anggota populasi yang akan diteliti. Misalnya, apakah populasi cenderung bersifat homogen atau heterogen. Hal ini akan memudahkan peneliti untuk menentukan besar sampel hingga teknik sampling yang tepat digunakan.
  3. Menetapkan besaran sampel. Hal ini dilakukan dengan memilih rumus besar sampel dengan memperhatikan: tujuan penelitian, rancangan penelitian, dan hipotesis penelitian.

 

References

Kriyantono, R. (2006). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Kencana Prenadamedia Group.

Sugiyono. (2018). Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta .

Syapitri, H., Amila, & Aritonang, J. (2021). Metodologi Penelitian Kesehatan. Ahlimedia Press.

 

 

This article is useful? Share on

Latest Article

Jenis-jenis Sampling dalam Penelitian

10 July2024
Ketika memilih jenis sampling, peneliti perlu menjamin teknik sampling yang digunakan bisa mewakili populasi. Ada… Read More

Memahami Studi Observasional

28 June2024
Definisi, Tipe, dan Cara Agar Data Berkualitas Ketika keadaan tidak memungkinkan peneliti untuk melakukan eksperimen… Read More

Populasi dan Sampel: Definisi, Jenis, Contoh, dan Perbedaan

14 June2024
Dalam riset, istilah populasi dan sampel sering digunakan sebagai penentu ‘seberapa banyak’ objek penelitian yang… Read More