Bagaimana Skema Bisnis Fandom Dalam Sepak Bola?

Reading Time: 4 minutes

UMN Consulting, Jakarta – ‘Opium’ adalah istilah yang tepat untuk menggambarkan sepak bola. Penggemar sepak bola rela menginvestasikan uang, waktu, bahkan emosi untuk mendukung klub kesayangan.

Mulai dari pemegang tiket musiman hingga penggemar layar kaca, semua memiliki kontribusi yang sama masifnya. Tak heran, banyak klub yang mencoba mengonversi ratusan juta penggemar mereka menjadi revenue.

Secara umum, klub sepak bola meraup keuntungan melalui 4 pintu: Hak siar, penjualan tiket pertandingan dan merchandise, iklan komersial, dan pasar transfer pemain.

Lihat saja, pada musim 2016/2017, keuntungan hak siar Premier League mencapai £1 miliar atau 18,9 triliun rupiah (CNBC International). Jumlah yang cukup besar, namun sayangnya masih harus dibagi ke semua klub.

Di sisi lain, profit dari hak siar pun diatur oleh pihak ketiga dan jumlahnya tergantung dengan performance tiap tim yang sulit stabil setiap tahunnya.

Sebagai contoh, Manchester City, Liverpool, dan Chelsea mendapatkan keuntungan penyiaran Liga Premier Inggris terbesar pada musim 2021/2022. Masing-masing ada di peringkat 1, 2, dan 3.

Fandom Sebagai Sumber Pemasukkan Alternatif

Contohnya, Manchester United membuka platform berlangganan bernama MUTV di tahun 1998, dimana penggemar dapat mendapatkan rekaman behind the scenes dan wawancara eksklusif.

Kompas.com (AFP/OLI SCARFF)

Peran penggemar dalam sepak bola berkembang seiring dengan tren globalisasi dan kebutuhan bisnis.

Dulu, pendukung suatu klub umumnya adalah penduduk kota tempat klub tersebut lahir. Tak heran, banyak klub yang menggunakan nama kota sebagai identitasnya.

Kini, samarnya batas-batas geografis memungkinkan orang untuk menonton dan mendukung klub yang berada di negara lain. Meskipun bukan warga kota, konsumen mancanegara memiliki keterikatan emosional yang sama intens.

Berubahnya skema dukungan dari yang tadinya selaku warga kota menjadi pure konsumen, membuat fans mendapatkan timbal balik dari dukungan mereka.

Contohnya adalah kemudahan untuk menghadiri pertandingan dengan tiket musiman – atau segala sesuatu yang bisa memenuhi hasrat mereka untuk mendukung klub secara maksimal.

Perkembangan ini membuka kesempatan bagi klub untuk mengonversi loyalitas penggemar menjadi revenue tambahan. Skema monetisasi yang digunakan contohnya seperti di bawah ini.

 

Pembuatan Konten dan Subscription

manutd.com

Di tengah perkembangan media sosial sebagai kendaraan bisnis, jumlah pengikut atau followers adalah modal untuk bersaing. Meskipun tidak semua pengikut adalah penggemar, jumlahnya tetap bisa membuat klub lebih mudah mendapatkan sponsor.

Ini mendorong klub untuk menata ulang strategi media sosial mereka. Tujuannya tentu untuk mendapatkan insight mengenai preferensi para followers. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan membuat konten-konten berkualitas.

Jika berhasil, usaha ini akan mendorong traffic yang tinggi ke website atau aplikasi. Ini juga akan mempermudah klub untuk mendapatkan insight komprehensif mengenai preferensi dan kebiasaan belanja penggemar.

Bagaimanapun, kenyataan tak melulu semudah itu. Beberapa klub gagal menjaga tingkat engagement dan konversi ke sales.

Contohnya, sejak persetujuan sponsor dengan Spotify, FC Barcelona hanya mampu mengonversi 1% dari total penggemar untuk mendaftar ke platform tersebut dan memberikan data mereka.

Jika dijabarkan, hanya sekitar 3 juta pengguna baru saja. Ini membuat nilai kerja sama keduanya menurun.

Keadaan di atas tentu akan sangat berbeda apabila club menawarkan sesuatu yang lebih sesuai dengan kebutuhan penggemar.

Bisa jadi, mereka akan lebih antusias untuk memberikan data diri apabila reward-nya adalah informasi terkini, interview eksklusif, kabar kegiatan klub, dan berita-berita positif mengenai tim yang mereka dukung.

Melalui skema tersebut, jumlah followers di media sosial dapat dikonversi menjadi insight dan keuntungan. Bukan sekadar kumpulan orang yang mengikuti klub secara cuma-cuma. 

Selain itu, beberapa klub juga memanfaatkan konten berkualitas untuk memonetisasi fandom mereka. Misalnya, dengan cara mendorong mereka untuk membayar langganan (subscription) newsletter untuk tayangan-tanyangan eksklusif.

Metode ini tidak hanya memungkinkan klub untuk mengumpulkan data penggemar, namun juga mendapatkan uang secara langsung dari mereka.

Contohnya, Manchester United membuka platform berlangganan bernama MUTV di tahun 1998, dimana penggemar dapat mendapatkan rekaman behind the scenes dan wawancara eksklusif. 

Jika kita asumsikan biaya langganan tahunannya adalah Rp500,000 dan hanya 1% dari 61,6 juta pengikut Instagram yang berlangganan, revenue yang didapatkan cukup membuat ngiler kan Bizmates?

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Manchester United (@manchesterunited)

Pentingnya Membangun Loyalitas Fans

Twitter.com/sscnapoli

Penggemar sepak bola terkenal dengan kualitas Tribal. Artinya, mereka menganggap klub idola sebagai identitas diri. Mereka juga melihat sesama fans sebagai keluarga.

Karena hal ini, muncul peraturan tidak tertulis seperti pantangan untuk meninggalkan klub kesayangan, mendukung klub lain yang lebih atraktif, dan bahkan mengagumi klub rival.

Tentu saja, memiliki konsumen dengan tingkat loyalitas setinggi itu adalah mimpi semua brand. Inilah kenapa, penting untuk membangun koneksi berkesinambungan dengan konsumen, atau dalam hal ini, fandom.

Salah satu bentuk engagement yang populer adalah melalui game.

Meskipun tidak bisa melihat penampilan tim kesayangan setiap hari, para fans tetap bisa dekat dengan idolanya melalui permainan seperti FIFA, PES, dan Football Manager.

Dengan begini, percakapan dan interaksi di ranah digital terus tumbuh sepanjang waktu.

Game di atas juga dapat mengundang penggemar baru ke sebuah klub melalui statistik-statistik pemain yang luar biasa. Engagement ini terus dikembangkan melalui kompetisi atau interaksi secara langsung dengan pemain favorit.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by EA SPORTS FIFA (@easportsfifa)

Mantan Direktur Pemasaran dan Media Liverpool FC, Marcus Breglec, berpendapat, penting bagi klub untuk menunjukkan rasa cinta terhadap penggemar jika ingin mendapatkan hal yang sama dari fans.

Yang menjadi ‘PR’ adalah bagaimana cara membangun koneksi tersebut dengan generasi muda.

“Dulu, mereka datang dengan ayahnya, sekarang mereka datang melalui game, e-sports, atau melalui permainan lain ke dalam fandom sepak bola. Jadi, titik masuk dan cara suporter masuk ke sepak bola berbeda dari sebelumnya,” jelasnya.

Bisa dikatakan, fandom merupakan bentuk lain dari loyalitas konsumen. Generasi muda kini sudah tidak ingin sekadar menjadi penonton, mereka ingin berpartisipasi dan menjadi bagian dari suatu produk atau brand.

Dapatkan insights mengenai perilaku dan gaya konsumsi generasi muda di beragam sektor secara gratis melalui Halaman Premium dan Freemium UMN Consulting. Untuk insights yang lebih komprehensif dan customized, komunikasikan lebih dekat dengan kami.

This article is useful? Share on

Latest Article

Jadi Rebutan, Siapa Paslon Pilihan Gen Z?

01 February2024
Jejak karier para capres cawapres 2024 harus diakui no can can alias nggak kaleng-kaleng.  Ada… Read More

Menuju Pemilu: Gen Z Bukan Sekadar Umpan Politik

19 January2024
Cuplikan acara “Partysipasi” oleh KompasTV, KPU, dan UMN dalam rangka mengedukasi mahasiswa mengenai Pemilu 2024.… Read More

Ngerinya Pretty Privilege, Dari Serial Killers Hingga Fandom

30 June2023
The problem with pretty privilege ranges from a successful career to justifying murder. Gak percaya?… Read More