Menuju Pemilu: Gen Z Bukan Sekadar Umpan Politik

Reading Time: 3 minutes
Cuplikan acara "Partysipasi" oleh KompasTV, KPU, dan UMN dalam rangka mengedukasi mahasiswa mengenai Pemilu 2024. (Dok. Christian Natanael/UMN)

Cuplikan acara “Partysipasi” oleh KompasTV, KPU, dan UMN dalam rangka mengedukasi mahasiswa mengenai Pemilu 2024. (Dok. Christian Natanael/UMN)


UMN Consulting, Jakarta
– Menuju Pemilu 2024, Gen Z bagaikan padi yang menguning di tengah padang rumput. Karakteristik yang unik menjadikan mereka tokoh populer dalam wacana ekonomi bisnis dan politik.

Pun, besarnya proporsi populasi ini pada Pemilu 2024 membuat para politisi memperebutkan suara mereka.

Akibatnya, muncul gimik politik yang-penting-viral tak bersubstansi di media sosial. Contohnya kampanye dengan joget-joget, memviralkan second account salah satu capres, dan tampil sebagai pencinta kucing di Instagram.

Jelas ini menunjukkan kesan bahwa generasi muda hanya diperlakukan sebagai umpan, alih-alih warga negara yang pantas diedukasi dan dibina nalar kritisnya.

Mempelajari potensi dan pengaruh Gen Z selama satu dekade ke depan, perlu keseriusan dalam memitigasi permasalahan nyata yang mereka hadapi.

 

Gen Z Memiliki Aspirasi Tersendiri 

Ungkapan “Gen Z cuma pengin hidup bahagia” bukan hanya candaan. UMN Consulting menemukan beberapa indikator hidup bahagia yang Gen Z inginkan di masa depan. Kami menyebutnya aspirasi. 

UMN Consulting meminta 1.321 anak muda berusia 17-24 tahun di seluruh Indonesia untuk meranking aspirasi mereka.

Dilihat dari rata-rata skala kepentingan, 5 aspirasi utama Gen Z adalah memiliki karir cemerlang, religiusitas tinggi, rumah yang layak, pernikahan yang bahagia, dan memulai bisnis sendiri. 

Aspirasi utama Gen Z adalah memiliki karir cemerlang, religiusitas tinggi, rumah yang layak, pernikahan yang bahagia, dan memulai bisnis sendiri.
UMN Consulting, 2021

Lebih spesifik, menurut Gen Z yang baru lulus kuliah, memiliki pernikahan yang bahagia lebih penting daripada memiliki rumah yang layak. 

Ini menunjukkan, urutan aspirasi pada setiap kalangan usia mengikuti kebutuhan masing-masing. Bisa jadi, para fresh graduates mulai memikirkan pernikahan. 

Menariknya, aspirasi untuk memenuhi kepuasan diri sendiri seperti menjadi terkenal dan mengelilingi dunia tidak terlalu penting bagi Gen Z. 

Ini menegaskan bahwa generasi ini cenderung tidak memiliki tendensi narsisistik dan kebelet viral, bertolak belakang dengan anggapan para politisi. 

Jadi, apakah politisi yang menggunakan pendekatan narsistik dan yang-penting-viral sudah cukup menjawab kebutuhan Gen Z? Tentu saja tidak. 

Mengenali karakteristik anak muda adalah satu hal, namun hanya pemimpin yang genuine yang mampu memahami dan mengakomodir aspirasi mereka.

 

Tak Seindah Deskripsi Media 

Punya segudang ide brilian, digital savvy, dan fashionable adalah label-label yang sering disematkan pada Gen Z.  

Kemudahan akses terhadap teknologi digital membuat mereka dijuluki generasi serba instan. Sayangnya, fakta di lapangan tidak sementereng itu. 

Sebagian anak muda harus berjuang melawan kemiskinan, upah rendah, dan isu-isu sosial lainnya.  

Stanley (26), contohnya, harus kerja serabutan demi menghidupi istri dan anaknya. Karena beberapa hal, ia meninggalkan kehidupan mewahnya di Jakarta dan pindah ke Kalimantan Timur.

Secara garis besar, menurut data BPS pada tahun 2022, 21,7 juta pemuda (usia 16-30 tahun) di Indonesia bekerja dengan upah rendah. 

Lebih lanjut, 17,6 juta pemuda sedang tidak sedang bersekolah, bekerja, atau mengikuti pelatihan. 35 juta pemuda juga masih bekerja sebagai pekerja tidak tetap.

Selanjutnya, 26,4 juta pemuda tidak memiliki tempat tinggal layak dan 2,97 juta merupakan korban penganiayaan. 

Inilah pentingnya untuk tidak melabeli Gen Z dengan karakteristik yang dibangun oleh media.

Sejatinya, setiap generasi memiliki tantangan tersendiri. Bagi Gen Z, ketakutan utama mereka adalah menjadi beban keluarga (37,7%) dan tidak bisa memenuhi ekspektasi keluarga (31,19%).

Baca data lengkapnya di Gen Z’s Lifestyle and Consumption Habits.

Ini tidak lantas membuat generasi muda bermalas-malasan. Justru, mereka semakin termotivasi untuk melakukan yang terbaik demi bisa menghindari ketakutan tersebut.

 

Jangan Jadi Janji Semata 

Di atas kertas, ketiga pasangan Calon Presiden 2024 sudah membahas upaya mitigasi permasalahan-permasalahan yang dihadapi anak muda.

Tak hanya itu, mereka juga menekankan penegakkan HAM, hukum, dan keadilan.

Tantangannya adalah bagaimana tiap-tiap paslon akan merealisasikan tulisan di dalam selebaran visi-misi tersebut. Jangan sampai nasib Gen Z sama seperti sebatang tebu; habis manis, sepah dibuang.

Pemahaman yang sembrono mengenai Gen Z di Indonesia dapat berimbas pada gagalnya politisi dalam menjawab aspirasi mereka dan menyelesaikan isu yang dihadapi.

Baca report terbaru UMN Consulting mengenai Antusiasme Gen Z terhadap Pemilu 2024 secara gratis di halaman Premium Content.

Untuk analisis lainnya mengenai generasi muda, kunjungi halaman Freemium Content dan Blog. 

This article is useful? Share on

Latest Article

Jadi Rebutan, Siapa Paslon Pilihan Gen Z?

01 February2024
Jejak karier para capres cawapres 2024 harus diakui no can can alias nggak kaleng-kaleng.  Ada… Read More

Menuju Pemilu: Gen Z Bukan Sekadar Umpan Politik

19 January2024
Cuplikan acara “Partysipasi” oleh KompasTV, KPU, dan UMN dalam rangka mengedukasi mahasiswa mengenai Pemilu 2024.… Read More

Ngerinya Pretty Privilege, Dari Serial Killers Hingga Fandom

30 June2023
The problem with pretty privilege ranges from a successful career to justifying murder. Gak percaya?… Read More