Efek Combo dari Iklan Pocong di Spotify, Kok Bisa?

Reading Time: 3 minutes
Iklan pocong spotify, iklan spotify, spotify premium, iklan pendakian horror

“Pocong sing kok goleki iku aku. Pocong yang kamu cari itu aku.”

Familiar sama kalimat barusan? Kalau iya, pasti kamu pernah jadi pengguna Spotify gratisan. Tenang, kamu nggak sendirian.

Belum lama ini, Spotify kebanjiran protes di media sosial. Pengguna non-premium ngerasa keberatan sama iklan podcast Pocong Ningrum yang muncul pas lagi enak-enaknya dengerin lagu.

Uniknya, banyak pengguna yang terpaksa bayar langganan biar nggak kena terror pocong lagi.

Seolah kena efek domino, cerita Pocong Ningrum juga jadi makin populer. Podcast yang nyiarin ceritanya (Lentera Malam) pun nempatin peringkat 3 besar Podcast Charts Spotify.

 

Jeniusnya Spotify

Kalau kita coba justifikasi, Spotify cuma wadah yang mempromosikan podcast tersebut. Toh, tren konten horror juga lagi menanjak di Indonesia. Tapi nyatanya, ini bukan kali pertama.

Di tahun 2017, iklan Spotify UK pernah dicekal karena terlalu horror dan dikhawatirkan akan menimbulkan efek paranoid terhadap anak-anak.

Terlepas dari iklan horror, Spotify emang paling jago membaca pola perilaku pengguna.

Contohnya, buat bikin pengguna ketagihan buka Spotify, mereka nerapin trik behavioral psychology. Caranya dengan menciptakan habit loop berpola reward → cue → routine.

Fitur berupa daftar putar “Release Radar” dan “Discover Weekly”  menawarkan lagu-lagu baru (reward), yang akan hilang dan berganti setiap awal minggu (cue).

Akhirnya tercipa kebiasaan dengerin lagu-lagu baru di Spotify setiap awal minggu (routine).

Aktivitas di atas terjadi berulang-ulang (looping) sehingga menjadi kebiasaan (habit).

Trik ini berperan besar terhadap pertumbuhan pengguna sebesar 23% (YoY) di tahun 2023. Tapi, target mereka belum selesai di sini.

Dari 602 juta pengguna aktif, baru 236 juta yang mau bayar langganan. Sisanya belum.

Nah, gimana caranya biar pengguna gratisan ini mau bayar langganan?

Double Impact dari Iklan Horror

Menciptakan rasa takut adalah trik marketing yang ampuh. Salah satu bentuknya adalah fear-based advertising.

Strategi ini mendorong pengguna agar mau melakukan suatu aksi demi mengatasi ketakutan mereka.

Aksi tersebut misalnya bayar langganan, beli suatu produk, atau mengadopsi perilaku tertentu.

Dalam kasus iklan Pocong Ningrum, bukan cuma podcastnya yang untung, tapi Spotify juga kecipratan combo impact.

Selain bikin orang jadi terpaksa langganan, keluhan pengguna non-premium bikin iklan Pocong Ningrum jadi populer di media sosial.

Sampai-sampai, ada banyak konten TikTok soal beragam cara pengguna Spotify buat escape dari iklan itu.

Ada yang reflek mute volume, lepasin earphone, dan keluar dari platformnya. Emang sih cara-cara seperti itu work well, tapi untuk jangka panjang, tetep harus bayar langganan. Mau nggak mau.

Orang-orang pun jadi penasaran sama cerita yang diiklanin. Lihat aja, yang direkomendasiin YouTube ketika kita ketik “podcast pendakian horror” mostly berhubungan sama cuplikan iklan horror Spotify.

Akhirnya nyampelah kita di Sadel, TARIKKK TARIKKK, nah itu kan bentuknya udah nggak karu-karuan.

iklan horror spotify, iklan spotify pendakian horror, iklan pocong ningrum, iklan spotify, spotify premium, pocong ningrum, podcast horror
Sumber: YouTube

Iklan konten horror ketemu audiens +62 yang emang suka ditakut-takutin: Boom!

Jangan Asal Nakut-Nakutin

Udah mulai dapet inspirasi buat nerapin strategi yang sama buat bisnismu? Sebelum take action, pastiin kamu udah mempertimbangkan hal-hal di bawah ini.

Sediakan Solusi

Biar strategimu nggak dicap fear-mongering, kamu harus ngasih solusi buat mengatasi ketakutan konsumen.

In Spotify’s case, solusinya adalah bayar langganan. Tantangannya, kamu harus mastiin solusi tersebut worth every consumer’s penny. Kalau nggak, ya mereka bakal pilih ninggalin bisnismu sebagai solusinya.

Relevancy Matters

Kata lainnya, jangan asal nakut-nakutin. Pesan yang disampaikan harus tetap relevan sama produk atau layanan yang kamu tawarin.

Kalau nggak gitu, strategimu nggak ada bedanya dari iklan tangan bolong-bolong atau foto obscure di website antah berantah.

Apa yang kejadian di Spotify ini termasuk fair karena podcast dan produknya memang beneran ada, ditambah, warga +62 jadi dapet value berupa referensi konten uji nyali baru.

Wajib Kenal Audiens

Tanpa insight a-z tentang audiens, hal-hal yang mereka sukai (dan takuti of course), dan perilaku mereka, susah buat crafting strategi yang bagus.

Spotify ngebangun perilaku pengguna pakai pola reward → cue → routine lewat fitur “Discover Weekly” karena mereka tahu, discovering new songs earlier than others, being up-to-date and sharing songs others haven’t heard of before, feel good for some people.

Kalau perilaku target konsumenmu, gimana? Have you figured out?

Tenang, UMN Consulting bakal bantuin kamu buat mecahin teka-teki di atas biar strategimu makin perfect nantinya.

Ngobrol di sini, yuk!

This article is useful? Share on

Latest Article

All You Need to Know About Research

18 April2024
Riset memang bisa menjadi hal yang mengintimidasi. Telebih, jika Bizmates masih bingung tentang tipe riset,… Read More

Belajar Empathetic Marketing dari Iklan IKEA di Spotify

05 April2024
Spotify Indonesia sempet sering nyisipin iklan podcast horror di sela-sela musik. Karena cukup bikin merinding,… Read More

Efek Combo dari Iklan Pocong di Spotify, Kok Bisa?

22 March2024
“Pocong sing kok goleki iku aku. Pocong yang kamu cari itu aku.” Familiar sama kalimat… Read More