Kenapa Meme Marketing Disukai Gen Z?

Reading Time: 4 minutes
Tips meme marketing untuk Gen Z

UMN Consulting, Jakarta – Meme dan humor membuat kehidupan terasa lebih ringan. Itulah kenapa, Gen Z seolah nggak bisa hidup tanpa meme.

Konsumsi mereka terhadap konten hiburan ini bisa dibilang masif. Nggak heran, meme yang relate sama kehidupan sehari-hari cepet banget viral dan tersebar di media sosial.

Faktanya, meme bisa jadi cheat code ampuh buat marketer yang mau jualan ke Gen Z. Buat mencuri perhatian generasi muda, kamu bisa menggunakan strategi promosi meme marketing.

 

Apa Itu Meme Marketing?

Istilah meme atau mim pertama kali diciptakan oleh Richard Dawkins, seorang biolog evolusioner, untuk menjelaskan suatu pola informasi yang berevolusi dan tersebar antar manusia.

Dewasa ini, meme lumrahnya digunakan untuk mengekspresikan diri. Nggak jarang juga, warganet menggunakan meme untuk menyampaikan kritik sosial melalui kemasan yang humoris.

Tampilan yang biasa ditemui ada bermacam-macam, mulai dari gambar disertai teks cross-context singkat hingga gambar no-context berkualitas rendah.

Dalam dunia marketing, meme menjadi bagian strategi untuk mempromosikan suatu produk atau brand melalui konten komedi.

Dengan usaha dan biaya yang relatif minim, konten meme marketing memiliki potensi tinggi untuk disebarluaskan.

 

Kenapa Meme Populer di Kalangan Gen Z?

Sebenernya, bisa dimengerti sih kenapa meme populer di kalangan Gen Z. Berdasarkan hasil riset UMN Consulting, mencari hiburan adalah aktivitas utama Gen Z di media sosial selain berkomunikasi.

Dari 1.177 responden berusia 15-25 tahun, 20,8% dari mereka menggunakan media sosial untuk berkomunikasi, 20,3% untuk mencari hiburan, dan 13,8% untuk mengisi waktu luang.

Statistik Penggunaan Media Sosial oleh Gen Z (Source: UMN Consulting)

 

Lebih lanjut, temuan ini membentuk preferensi konsep iklan digital yang menarik bagi Gen Z.

Masih dari hasil riset UMN Consulting, Gen Z lebih menyukai iklan yang menghibur atau memuat konten komedi daripada iklan yang langsung mempromosikan produk atau iklan yang menyentuh hati.

Preferensi Digital Marketing Oleh Gen Z (Souce: UMN Consulting)

Tendensi tersebut semakin menguat selama pandemi COVID-19. Ini karena, kebiasaan belajar daring semasa PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) membuat Gen Z suntuk dengan keseharian mereka.

Akibatnya, kebutuhan terhadap konten pereda stress di media sosial meningkat.

“Mayoritas Gen Z adalah mahasiswa. Mereka lelah membaca materi akademik di internet, khususnya selama pembelajaran daring. Study-life balance penting bagi mereka,” jelas Albertus Magnus Prestianta, peneliti UMN Consulting.

Keunggulan Meme Marketing

Selain ampuh untuk menyasar kalangan Gen Z, meme untuk kepentingan marketing juga memberi keuntungan-keuntungan lain, seperti:

  • Biaya produksi yang relatif murah

Untuk membuat suatu meme, hal yang paling kamu butuhkan adalah kreativitas. Kadang, kamu nggak perlu menyiapkan design muluk-muluk agar menarik.

Gambar dengan kualitas seadanya pun bisa dapetin reach dan interaction tinggi, asal relate sama audiens. 

  • Konten lebih shareable

Salah satu kekuatan meme adalah share probability yang tinggi. Jarang ada orang yang tahan buat nggak nyebarin meme lucu ke temen-temennya.

Bahkan, ada juga yang mengubah meme menjadi sticker WhatsApp agar bisa dipakai kapanpun dalam konteks percakapan online. Ini mempertegas fungsi meme sebagai hiburan dan alat mengekspresikan diri.

Kamu sendiri juga gitu kan, Bizmates?

  • Mudah diingat

Tau nggak, Bizmates? Pesan yang disampaikan dengan humor lebih gampang nempel di kepala audiens.

Menurut suatu penelitian, humor dengan tujuan penggunaan yang tepat lebih mudah diingat daripada humor yang bersifat offensive atau menjatuhkan pihak tertentu (Wanzer, 2010).

Dengan begini, meme efektif banget buat ngenalin produkmu ke publik, asal tetap dalam koridor yang tepat.

 

Tetap Perlu Perhatiin Hal-Hal Ini

Meskipun menjanjikan, pakai meme sebagai medium pemasaran cukup tricky. Kalau nggak paham konteks atau kurang peka sama preferensi audiens, bisa-bisa kamu jadi laughing stock di internet, Bizmates. Biar nggak tersesat, kamu perlu perhatiin hal-hal ini.

 

Wajib Kenal Sama Audiens Biar Relate

Meskipun ampuh buat memasarkan brand ke Millennial dan Gen Z, meme juga populer di kalangan usia lain. Bahkan, ada akun khusus meme bapak-bapak (dad jokes) di Instagram.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by bapak2ID (@bapak2id)

 

Tentu saja, karakteristik meme buat tiap kalangan usia beda-beda. Inilah pentingnya nentuin audiens yang mau kamu sasar dan cari tau preferensinya.

Kalau kamu mau menyasar anak muda, pastikan meme yang kamu bikin nggak garing atau worse, memuat candaan dewasa.

Perlu dicatat juga, tingkat engagement meme tergantung sama seberapa relate kontennya buat audiens. Kalau yang kamu sasar anak muda usia 18-25 tahun, kamu bisa bikin meme dengan element of irony soal kehidupan di kampus, balada cari kerja, dan lain-lain.

Jangan lupa, tetep kaitin konten meme sama value brand ya, Bizmates. Justru ini tantangan serunya!

 

Be Universal

Humor itu universal, artinya, harus bisa dinikmati semua orang. Begitu pula dengan konten meme marketing.

Kalau konten yang kamu bikin ternyata kurang lucu, minimal nggak nyinggung siapa-siapa, deh.

Hasil riset UMN Consulting menunjukkan, Gen Z lekat dengan karakteristik Universal dan Benevolence. Ini artinya, mereka lebih peduli dengan lingkungan sekitar dan orang lain dibanding diri mereka sendiri.

“Gen Z suka dengan konten-konten yang menghibur tapi universal. Mereka kurang suka konten yang menyinggung salah satu kelompok karena mereka tumbuh di lingkungan yang beragam. They embrace diversity,” jelas Nona Evita, peneliti Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Inilah pentingnya buat nggak ngide pakai dark jokes di meme marketing kamu. Sebagai gantinya, kamu bisa bikin meme yang berkaitan sama suatu fandom atau series yang lagi trending, Bizmates.

Dalam pembuatan konten pemasaran, mengenali target audiens adalah langkah yang krusial. Asal memasarkan sesuatu tanpa melakukan riset preferensi audiens beresiko membuat bisnismu kehilangan kredibilitas hingga mengalami kerugian material dan non-material.

Sebelum mencoba meme marketing, kamu perlu mempelajari kebiasaan anak muda (Gen Z) dalam mengonsumsi konten digital dan iklan digital.

Kamu bisa membaca insight tersebut secara gratis, atau kepoin hasil risetnya yang lebih lengkap dan mendalam di halaman Freemium dan Premium UMN Consulting.

This article is useful? Share on

Latest Article

Jadi Rebutan, Siapa Paslon Pilihan Gen Z?

01 February2024
Jejak karier para capres cawapres 2024 harus diakui no can can alias nggak kaleng-kaleng.  Ada… Read More

Menuju Pemilu: Gen Z Bukan Sekadar Umpan Politik

19 January2024
Cuplikan acara “Partysipasi” oleh KompasTV, KPU, dan UMN dalam rangka mengedukasi mahasiswa mengenai Pemilu 2024.… Read More

Ngerinya Pretty Privilege, Dari Serial Killers Hingga Fandom

30 June2023
The problem with pretty privilege ranges from a successful career to justifying murder. Gak percaya?… Read More