Belajar Empathetic Marketing dari Iklan IKEA di Spotify

Reading Time: 4 minutes

Spotify Indonesia sempet sering nyisipin iklan podcast horror di sela-sela musik. Karena cukup bikin merinding, banyak pendengar gratisan atau non-premium yang sengaja mute volume atau nyopot earphone setiap iklan itu lewat.

Emang sih, ketika manusia ketemu sesuatu yang nakutin, responnya either fight or flight. Dalam kasus iklan horror tadi, yang bernyali bakal penasaran dan langsung dengerin podcastnya. Sisanya, bakal ngelakuin apa aja, bahkan bayar langganan, demi menghindari iklan itu.

Kita udah bahas ini di artikel sebelumnya. Tepatnya, soal gimana strategi fear-based advertising bikin iklan horror Pocong Ningrum ngehasilin double impact, baik buat podcast yang nayangin dan Spotify sendiri.

Pertanyaannya, apakah kita harus ikutan bikin iklan serem biar hasilnya “gong” juga? Gimana dengan iklan yang menenangkan? Does it stand a chance to generate such impacts too?

 

The Answer is Y.E.S

Di tahun 2020, iklan IKEA berhasil dapetin peningkatan click-through rate (CTR) sebesar 164% dibanding rata-rata standar Spotify. Impact yang nggak main-main ini mereka dapetin bukan dari iklan horror, tapi justru iklan senyap.

Sekilas,  iklan kayak gitu terkesan ngebosenin dan susah nge-hook perhatian pendengar. Tapi, yang menarik buat dikulik adalah latar belakang IKEA dalam ngebuat iklan calming ini. 

Yup, mereka nggak tiba-tiba mutusin buat bikin iklan yang anti-mainstream, just to be different

IKEA ngumpulin keluhan-keluhan orang tua di Kanada yang kekurangan jam tidur karena bayi mereka sering kebangun tengah malem. Buat mengatasi masalah tersebut, para orang tua muter playlist pengantar tidur di Spotify biar si bayi nggak kebangun lagi.

The bad news is, kebanyakan dari mereka nggak pakai Spotify premium. Setiap ada iklan lewat, bayi mereka selalu kebangun saking menggelegarnya suara iklan-iklan di Spotify waktu itu.

IKEA Spotify Ads Won't Wake The Baby
Picture Credit to Freepik

Masalah bagi konsumen adalah peluang bagi bisnis, kira-kira itu prinsip yang diterapin sama IKEA. Buat nyuri hati para orang tua, mereka naruh targeted ads di playlist pengantar tidur yang paling populer di Spotify. 

Iklan tersebut berbentuk narasi suara berbisik yang diakhiri dengan promosi produk perlengkapan kamar tidur IKEA. Hasilnya, justru banyak pendengar yang tertarik buat ngepoin link produknya.

Dibandingkan bikin jingle heboh buat narik perhatian pendengar, IKEA nemuin ramuan rahasianya sendiri, yaitu empati terhadap audiens mereka. Ini yang namanya Empathetic Marketing.

 

Apa Itu Empathetic Marketing?

Empathetic marketing adalah trik pemasaran dengan menampilkan perusahaan atau brand sebagai pihak yang berempati terhadap konsumen.

Buat nerapin trik ini, brand perlu mampu ngedengerin apa yang konsumen inginkan, khawatirkan, sampai di tahap memahami emosi mereka.

Bukan cuma berhenti di situ, brand juga perlu nawarin alternatif yang lebih ramah konsumen.

Berbeda dari fear-based advertising yang manfaatin respon fight-or-flight manusia, empathetic marketing fokus ngebangun hubungan emosional antara brand dan konsumen.

Menurut hasil penelitian seorang ahli saraf, Antonio Damasio,  emosi berperan penting dalam proses pengambilan keputusan.

Dia nemuin bahwa pasien yang kehilangan kemampuan untuk merasakan emosi karena suatu tindakan operasi masih bisa berpikir dengan jernih, namun kesulitan untuk mengambil keputusan.

Bayangin, kamu udah bikin konsep promosi yang mahal dan ikonik, tapi gagal ngebangun hubungan emosional sama konsumenmu. Ya, mereka bakal mikir-mikir terus untuk pakai produk atau jasamu, nggak bakal membuat keputusan.

 

Gimana Cara Nerapin Empathetic Marketing?

Biar lebih paham lagi, kamu perlu tau apa bedanya simpati dan empati. Simpati berarti kemampuan buat memahami situasi orang lain, namun dari sudut pandang kita sendiri. Contohnya, waktu kamu ngerasa kasihan sama temen yang lagi sakit.

Jauh lebih dalam, empati berarti turut memahami dan berbagi emosi di tengah kondisi kurang baik orang lain. Ketika kamu berempati, kamu bakal rela ngorbanin waktu, tenaga, dan emosi untuk meringankan kesulitan orang lain.

Dalam bisnis, nggak semua marketers punya kemampuan untuk berempati kepada konsumen. The result is, banyak keputusan pemasaran yang diambil berdasarkan asumsi atau bias.

Biar nggak ngelakuin kesalahan yang sama, kamu perlu perhatiin hal-hal ini.

 

1. Sadari Biasmu

Biar nggak terjebak di dalam gelembungmu sendiri, kamu perlu bikin daftar preferensi awalmu terhadap konsep pemasaran yang mau dibikin. Kurang lebih, soal apa aja yang kamu harapkan di tiap-tiap proses kreatifnya.

Habis itu, mulai riset soal pain points konsumen atau audiens yang mau disasar. Cari tau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini:

  • Apa masalah yang sedang dihadapi konsumen?
  • Apa yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen?
  • Apa atau siapa yang memengaruhi konsumen?

Kalau kamu udah punya catatan soal preferensi awal dan jawaban-jawaban dari pertanyaan di atas, bias-bias di produk marketingmu bisa diminimalisir. 

 

2. Tawarin Solusi Sesuai Kebutuhan

Balik ke konsep awal, yaitu empati, memahami konsumen aja nggak cukup. Kamu perlu ngelakuin sesuatu buat meringankan kesulitan konsumen. Caranya dengan nawarin solusi lewat konten promosimu.

Di kasus IKEA tadi, solusi yang mereka tawarin adalah iklan yang senyap dan nggak bikin bayi kebangun. Di akhir-akhir, baru mereka ngenalin produk peralatan kamar tidur buat menunjang tidur para orang tua.

Karena ngerasa struggle-nya divalidasi, jadinya konsumen lebih gampang kepo sama apapun produk yang ada di konten tersebut.

 

3. Uji Konten Marketingmu

Buat tau seberapa berhasilnya konten marketingmu, emang perlu ngelakuin testing dulu. Caranya bisa lewat observasi, wawancara, atau survei di kalangan konsumen.

Idealnya, sebelum nemuin ramuan yang pas, perlu ada proses trial and error. Baru setelah kamu dapet insights tambahan, kamu bisa bikin konten marketing yang bener-bener menyentuh secara emosional.

 

Final Thoughts

Iklan IKEA di Spotify adalah contoh penerapan empathetic marketing yang berhasil. Mereka nggak mungkin dapetin impact sebesar itu tanpa ngelakuin riset soal kesulitan yang dialami para orang tua di Kanada.

Dengan bantuan data dari Spotify soal playlist pengantar tidur yang paling populer, iklan yang mereka bikin jadi semakin sesuai sama target.

Nerapin empathetic marketing berarti kita harus terbebas dari asumsi dan bias terhadap konsumen. Dari sini, penting buat dapetin data-data konkrit soal konsumen melalui riset.

This article is useful? Share on

Latest Article

Wawancara dalam Riset: Jenis, Alasan, Tips, dan Kodingnya

10 May2024
Dalam riset, wawancara adalah salah satu contoh metode pengumpulan data.  Wawancara tidak mengutamakan besarnya populasi… Read More

All You Need to Know About Research

18 April2024
Riset memang bisa menjadi hal yang mengintimidasi. Telebih, jika Bizmates masih bingung tentang tipe riset,… Read More

Belajar Empathetic Marketing dari Iklan IKEA di Spotify

05 April2024
Spotify Indonesia sempet sering nyisipin iklan podcast horror di sela-sela musik. Karena cukup bikin merinding,… Read More